Dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Rektorat Unhas Rabu, (18/12/2024), Prof Jamaluddin menyatakan bahwa manipulasi data siswa, termasuk nilai akademik, adalah bentuk pelanggaran serius. Ia menilai tindakan tersebut dapat merusak integritas proses seleksi serta kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan. “Tidak ada ruang bagi kondisi. Kami akan mengambil tindakan tegas terhadap oknum yang terbukti bersalah,” ujar Prof Jamaluddin.
Ia juga memahami motivasi beberapa guru yang ingin meningkatkan citra sekolah atau mengutamakan kebahagiaan siswa. Namun, Prof Jamaluddin menegaskan bahwa tujuan tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan prinsip kejujuran. “Kecurangan bukan solusi, tapi justru mengorbankan masa depan anak-anak kita dan kredibilitas sistem pendidikan kita,” tambahnya.
Sebagai langkah pencegahan, Unhas akan meningkatkan pengawasan dan menerapkan mekanisme verifikasi data yang lebih ketat pada SNBP tahun depan. Kampus ini juga berencana berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk memastikan semua peserta seleksi mengikuti proses yang sesuai dengan aturan yang berlaku.
Rektor Unhas menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa segala bentuk manipulasi hanya akan membawa dampak buruk bagi siswa dan sekolah. “Jika terbukti, tidak ada maaf. Kami akan mencoret siswa tersebut dari proses seleksi Unhas, dan ini adalah pesan tegas kami kepada semua pihak,” tutupnya. (*)



