KAREBAMAKASSAR.COM — Maros, Suara tawa anak-anak kini tak lagi bergema di bawah kolong rumah panggung. Di Dusun Bara, Desa Bontosomba, Kecamatan Tompobulu, ruang belajar sederhana yang dulu hanya beratapkan papan kini telah berganti menjadi gedung sekolah yang layak. Sabtu (3/1/2026) menjadi hari bersejarah ketika Sekolah Kolong–SDN 238 Bontoparang resmi diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten Maros.
Bagi anak-anak Dusun Bara, sekolah bukanlah hal yang mudah diakses. Jarak sekitar 50 kilometer dari pusat Kota Maros dengan medan jalan terjal membuat banyak anak kesulitan menempuh perjalanan ke sekolah formal. Bertahun-tahun lamanya, kolong rumah panggung warga menjadi satu-satunya tempat belajar. Di sanalah mereka duduk bersila, menulis di atas papan seadanya, dan memupuk mimpi di tengah keterbatasan.
Sekolah Kolong bermula dari kepedulian warga dan guru lokal sejak 2018. Tanpa bangunan, tanpa fasilitas memadai, yang ada hanyalah keyakinan bahwa anak-anak Dusun Bara berhak mendapatkan pendidikan. Seiring waktu, kehadiran relawan muda dan komunitas yang datang bergantian mengajar semakin menguatkan semangat anak-anak untuk terus belajar.
Harapan baru mulai tumbuh pada 2023 ketika Sekolah Kolong mendapat pengakuan sebagai kelas jauh SDN (Inpres) 238 Bontoparang. Pendampingan Program Estungkara oleh Yayasan Sulawesi Cipta Forum (SCF) menjadi jembatan penting antara suara masyarakat dan kebijakan pemerintah. Dari sinilah perjuangan keluar dari kolong rumah mulai menemukan jalannya.
Proses menuju gedung permanen bukan tanpa hambatan. Status lahan yang sebagian masuk kawasan hutan sempat memperlambat pembangunan. Namun pada 2025, izin penggunaan lahan akhirnya terbit. Pemerintah daerah pun menepati janji: ruang kelas dibangun, akses guru diperkuat, dan anak-anak Dusun Bara tidak lagi harus belajar di ruang sempit dan gelap.
Kini, bangunan Sekolah Kolong berdiri sebagai simbol perubahan. Bagi para orang tua, sekolah ini adalah jaminan masa depan anak-anak mereka. Bagi anak-anak, ia adalah tempat aman untuk bermimpi lebih besar. Dalam peresmian, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maros, Andi Wandi Bangsawan Putra Patabai, menegaskan bahwa sekolah ini harus menjadi ruang belajar yang ramah bagi semua anak.
“Ini bukan sekadar bangunan, tetapi bukti bahwa negara hadir hingga ke pelosok,” ujarnya.
Lebih dari sekadar gedung, Sekolah Kolong adalah cerita tentang gotong royong. Tentang warga yang membuka kolong rumahnya, guru yang bertahan mengajar di keterbatasan, relawan yang datang membawa harapan, dan pemerintah yang akhirnya hadir melalui kebijakan. Dari kolong rumah, anak-anak Dusun Bara kini melangkah menuju ruang belajar yang lebih layak—dan masa depan yang lebih terang.(*)



