KAREBAMAKASSAR.COM — Duta Besar Australia untuk Indonesia, Penny Williams untuk ketiga kalinya berkunjung ke Universitas Hasanuddin (UNHAS), kali ini didampingi Konsul Jenderal Australia di Makassar, Todd Dias.
Dengan menggunakan bahasa Indonesia yang fasih Penny mengungkapkan bahwa, Australia memiliki jarak yang paling dekat dengan Kota Makassar jika akan berkunjung ke wilayah lainnya, sehingga merasa senang dan mudah akses manjalin kerjasama dengan Unhas.
Menurutnya, hubungan antara Indonesia dan Australia adalah hubungan tetangga yang harus diperbaiki dan ditingkatkan, oleh sebab itu hubungan pendidikan antara Indonesia dan Australia penting sekali, di Unhas ada Australia-Indonesia Centre (AIC) dan ada banyak alumni Australia.
” Mudah-mudahan akan ada banyak Mahasiswa Australia yang belajar di sini, dan bagi saya adalah suatu kehormatan datang kesini dan tahun ini juga kita merayakan 75 tahun hubungan diplomatik antara Australia-Indonesia,” ucapnya.
Dihadapan awak media, Kamis 5 September 2024, Penny juga memaparkan kunjungan pertama saat mendampingi Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese yang berkunjung ke Unhas pada tahun 2022, dua pekan setelah dilantik menjadi Perdana Menteri.
” Dua tahun lalu saya sangat bangga karena dapat mendampingi bapak Perdana Menteri Australia, dua minggu setelah dilantik saat itu dan beliau juga langsung dari bandara ke Unhas,” tukasnya.
Rektor Unhas, Prof Jamaluddin Jompa yang menerima langsung kunjungan mengungkapkan,” ini adalah suatu kehormatan dikunjungi kembali oleh Duta Besar, tidak banyak yang bisa dikunjungi oleh petugas institute tapi tentu ini ada alasan,” ulasnya.
” Selalu saya katakan hubungan tetangga adalah keluarga terdekat sehingga Unhas sebagai institusi yang besar di timur dan paling dekat dengan Australia, harus memainkan peran sebagai tempat, jembatan, rumah bersama. Orang kemudian bisa datang untuk bekerjasama secara simbolik, sekaligus mengelola proyek antara Australia dan Indonesia,” tambahnya.
” Untuk penelitian yang disebut PAIR Sulawesi, tentu kita harus ucapkan terima kasih di depan awak media, karena kebijakan Ibu Duta Besar akhirnya menyetujui kerjasama dengan pemerintah, menggabungkan pendanaan kemudian peneliti Indonesia-Australia bersama-sama meneliti untuk di daerah Sulawesi. Suatu hal yang luar biasa bagi saya,” pungkasnya.
Berdasarkan informasi diperoleh media ini, kunjungan kali ini ke pusat disabilitas Unhas, bertemu para mahasiswa difabel.
Kemudian lanjut pertemuan dengan sejumlah alumni Australia di Unhas dan di Makassar.
Para alumni tergabung dalam organisasi alumni bernama IKAMA (Ikatan Alumni Australia).
Dubes Australia juga berkunjung ke Kantor Australia-Indonesia Centre (AIC) UNHAS Lab, sebuah lembaga baru yang didirikan bersama oleh unhas dan AIC yang diberi mandat menyelenggarakan Program Riset PAIR (Partnership for Australia Indonesia Research) Sulawesi.
Program PAIR Melibatkan 19 Universitas di Australia dan di Indonesia dan di host oleh Unhas. PAIR Sulawesi didanai oleh Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia.( Firmansyah )



